
Lombok Timur — Kartini Banat Fest 2026 yang diselenggarakan oleh DPK HIMMAH NWDI Fakultas Teknik Universitas Hamzanwadi telah sukses digelar pada Kamis, 23 April 2026 di Gedung Birrul Waalidain, Lombok Timur.Mengusung tema “Dua Momentum, Satu Perjuangan: NBDI dan Kartini dalam Mewujudkan Cita-cita Hamzanwadi”, kegiatan ini berhasil menjadi ruang temu antara sejarah, nilai perjuangan, dan arah masa depan. Semangat Raden Ajeng Kartini dan perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dihadirkan dalam satu panggung yang hidup, reflektif, dan penuh makna.Talk show yang menghadirkan narasumber TGM. H. Muhammad Zainuddin Ruslan dan Lailatul Ismy, serta dipandu oleh moderator Mir’atul Izzatillah, berlangsung dengan penuh antusiasme. Diskusi yang dibangun tidak berhenti pada simbolisasi perempuan, tetapi menegaskan perempuan sebagai aktor utama perubahan dalam membangun peradaban berbasis ilmu, iman, dan keberanian.Dalam pemaparannya, TGM. H. Muhammad Zainuddin Ruslan menekankan bahwa perjuangan Maulana Syaikh tidak pernah memisahkan antara ilmu, iman, dan peran perempuan dalam membangun peradaban.“Perempuan dalam pandangan perjuangan Hamzanwadi bukan sekadar pelengkap, tetapi pusat lahirnya generasi unggul. Jika perempuan kuat dalam ilmu dan iman, maka peradaban itu akan berdiri kokoh,” ungkapnya.Sementara itu, Lailatul Ismy menyoroti pentingnya keberanian perempuan masa kini untuk melampaui batasan sosial yang selama ini membatasi ruang geraknya.“Perempuan hari ini tidak cukup hanya memahami emansipasi sebagai kesetaraan, tetapi harus menjadikannya sebagai kekuatan untuk mengambil peran strategis. Perempuan harus hadir, bersuara, dan memimpin di ruang-ruang perubahan,” tegasnya.Tidak hanya itu, rangkaian Kartini Banat Fest 2026 juga berlangsung meriah dan sarat pesan. Penampilan Tim Wasiat Al Ma’hady, tari Tembeng Putik, orasi ilmiah keperempuanan, hingga pembagian juara lomba puisi turut memperkaya suasana, menjadikan acara ini bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga ruang ekspresi dan pergerakan.Ketua Umum HIMMAH NWDI Fakultas Teknik, Rizki Parabi, menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar.“Ini bukan tentang suksesnya acara hari ini, tapi tentang apa yang kita lanjutkan setelahnya. Kita tidak boleh hanya pandai memperingati, tapi gagal melanjutkan. Kartini dan para pejuang telah membuka jalan, tugas kita adalah memastikan jalan itu tetap hidup, bahkan meluas.Perempuan hari ini tidak cukup hanya diberi ruang, tapi harus mengambil peran, memimpin perubahan, dan menjadi pusat lahirnya peradaban baru. Kalau kita benar-benar paham sejarah, maka kita tidak akan berani hidup biasa-biasa saja,” tegasnya.Sekretaris Jenderal DPP HIMMAH NWDI, Kanda Abdul Muhip, turut menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap perjuangan para tokoh besar sebagai sumber energi pergerakan.“Kita tidak boleh lelah mengingat perjuangan Maulana Syaikh, karena dari sanalah kita selalu mendapatkan energi-energi nilai, energi semangat, dan energi untuk terus bergerak. Kartini dan NBDI adalah representasi nyata dari emansipasi perempuan. Keduanya bukan sekadar sejarah, tetapi fondasi perjuangan perempuan hari ini.Maka sudah seharusnya kita tidak hanya merayakan, tetapi juga memuliakan dan melanjutkan semangat itu dalam tindakan nyata,” ungkapnya.Sebagai penutup, moderator Mir’atul Izzatillah menyimpulkan bahwa pertemuan antara nilai Kartini dan perjuangan NBDI bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk terus dihidupkan.“Kita belajar hari ini bahwa perjuangan tidak boleh berhenti pada wacana. Perempuan harus menjadi subjek, bukan objek. Kartini telah membuka jalan, NBDI telah menguatkan fondasi dan generasi hari ini harus melanjutkannya dengan aksi nyata,” simpulnya.Melalui Kartini Banat Fest 2026, HIMMAH NWDI Fakultas Teknik menunjukkan komitmennya dalam membangun kesadaran kolektif kader dan masyarakat untuk terus melanjutkan perjuangan berbasis nilai keilmuan, keislaman, dan kemanusiaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penegasan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari sejarah melainkan penentu arah masa depan peradaban