
Warisan Al-Maghfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, sang Pahlawan Nasional, bukan hanya tercatat dalam buku sejarah. Ia hidup dan mengalir dalam tradisi-tradisi yang dirawat oleh murid-muridnya. Salah satunya adalah ritual pengijazahan doa ujian, sebuah momen sakral yang diyakini sebagai wasiat dan tanda cinta sang guru agar setiap santri dan muridnya sukses dalam menuntut ilmu.
Warisan Spiritual dan Tongkat Estafet Kepemimpinan
Inti dari momen pengijazahan ini bukan sekadar membaca teks doa. Ia adalah proses penerusan berkah (barakah) dan amanah spiritual langsung dari seorang guru mursyid kepada murid-muridnya. Dalam tradisi pesantren, ijazah doa memiliki kedalaman makna yang tidak sederhana; ia adalah sebuah ikatan batin, pengakuan, dan transfer energi positif dari seorang guru kepada murid.
Momen yang paling dinantikan—saat panitia mengucapkan “ihtirom” dan membaca “Robbana yazal jalaliwal minan”—adalah tanda kehadiran dan restu dari penerus estafet, Sidi Syaikh Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi. Beliau, yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama karismatik, tetapi juga pernah memimpin sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode (2008-2018). Kehadiran beliau atau zurriyah (keturunan) Al-Maghfurlah Maulana dalam acara ini menyempurnakan silsilah keberkahan, menyambungkan masa lalu yang mulia dengan masa kini yang penuh tantangan.
Generasi Muda: Dari Penerima Menjadi Pewaris
Aspek yang paling mengharukan sekaligus membanggakan dari tradisi ini adalah siklus regenerasinya. Pengijazahan doa ujian ini membentuk suatu siklus regenerasi spiritual yang berkelanjutan. Santri yang hari ini duduk khidmat menerima ijazah, di kemudian hari akan berdiri di posisi yang berbeda. Mereka inilah—sebagaimana disebutkan—yang kelak akan menjadi panitia, pengurus senat di Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits NWDI, atau thullab yang aktif mengabdikan diri.
Mereka adalah generasi yang akan bertanggung jawab untuk menjaga api warisan ini tetap menyala. Mereka akan menjadi penjaga ritme “ihtirom” berikutnya, penyalur doa, dan perawat tradisi. Proses ini mengajarkan bahwa spiritualitas dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan. Keyakinan dan doa menjadi fondasi dan penyemangat dalam mengarungi kerasnya perjuangan intelektual.
Perpaduan Keyakinan, Tradisi, dan Masa Depan
Dalam perspektif yang lebih luas, tradisi seperti ini menunjukkan keindahan harmoni antara sains dan agama. Sebagaimana diulas dalam berbagai diskusi, keyakinan akan kekuatan doa—yang sering disimbolkan dengan medium seperti air yang diberkahi—memiliki tempatnya sendiri. Ia bekerja pada ranah keyakinan (iman) dan psikologis, memberikan ketenangan, fokus, dan optimisme bagi para pelajar yang menghadapi ujian. Ini adalah bentuk dukungan spiritual yang melengkapi usaha keras belajar secara lahiriah.
Oleh karena itu, pengijazahan doa ujian ini harus dipandang lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia adalah simbol identitas, perekat komunitas, dan mesin regenerasi bagi organisasi Nahdlatul Wathan khususnya, dan masyarakat Muslim Indonesia pada umumnya. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan duniawi (lulus ujian) tidak boleh dipisahkan dari keberkahan spiritual.
Penutup
Tradisi pengijazahan doa ujian adalah warisan hidup yang bernafas. Ia menghubungkan masa lalu yang mulia dengan masa depan yang penuh harapan. Di pundak generasi muda yang hari ini menerima ijazah, kelak akan terbeban tanggung jawab untuk meneruskan tradisi ini. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pewaris dan pelestari warisan nilai yang tak ternilai ini. Dengan demikian, cinta Maulana Syaikh kepada murid-muridnya akan terus abadi, mengalir dari generasi ke generasi, melampaui ruang dan waktu. * AJ-MD