
Kecepatan dan ketepatan penanganan medis kembali menjadi faktor penentu keselamatan pasien di ruang instalasi bedah sentral RSUD dr. R. Soejono Selong. Tim dokter spesialis baru-baru ini berhasil melakukan tindakan operasi darurat (cito) pengangkatan usus buntu (apendisitis akut) terhadap seorang pasien yang datang dengan kondisi klinis nyeri hebat disertai risiko komplikasi tinggi.
Keberhasilan operasi ini tidak lepas dari fase krusial sebelum pembedahan dimulai, yaitu pengamanan jalur pernapasan pasien menggunakan teknik laringoskopi oleh tim anestesi. Pasien yang terdiagnosis mengalami peradangan usus buntu akut harus segera naik ke meja operasi untuk mencegah ruptur (pecahnya usus buntu) yang dapat menyebabkan infeksi luas di rongga perut (peritonitis). Karena operasi membutuhkan relaksasi otot perut yang maksimal, tim medis memutuskan untuk menggunakan metode anestesi umum (general anesthesia).
Tantangan utama dalam anestesi umum pada kasus darurat adalah mengamankan jalan napas sesegera mungkin guna menghindari risiko aspirasi paru—kondisi di mana isi lambung naik ke tenggorokan dan masuk ke saluran napas. Di sinilah prosedur laringoskopi memegang peran yang sangat vital.
Sekarang, RSUD dr. R. Soejono Selong telah melakukan operasi pertama laparoscopy appendectomy. Dengan metode ini, dokter bedah hanya membuat tiga lubang kecil berdiameter 1 cm di perut pasien. Lewat kamera dan alat khusus, usus buntu yang meradang berhasil diangkat dalam waktu 40 menit.
Dokter spesialis bedah menjelaskan keunggulan metode ini, yaitu nyeri pasca operasi lebih ringan, luka kecil minim bekas, dan pasien bisa pulang lebih cepat 24–48 jam dibandingkan operasi buka. Pasien kini sudah bisa berjalan pelan dan direncanakan dipulangkan lusa.
Metode laparoscopic appendectomy atau operasi usus buntu minim invasif kini menjadi pilihan utama di RSUD dr. R. Soejono Selong. Teknik ini terbukti membuat pasien lebih cepat pulih dengan luka operasi hanya sebesar kancing baju.