
Lombok Timur – Rombongan Delegasi Kementerian Pendidikan Otoritas Australia dan Palestina beserta dengan Kementerian Agama RI, pada hari kemarin Jum’at 25 April 2026 melakukan kunjungan ke Yayasan Pendidikan Hamzanwadi (YPH) Pondok Pesantren Darunnahdlatain (PPD) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Pancor.Kunjungan tersebut dalam rangka melihat praktik-praktik baik kerja sama pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa-siswi. Kunjungan kali ini menyasar dua lokasi, yakni MI No. 1 Hamzanwadi Pancor dan Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor Lombok Timur.Dr. Ihab Shukri, selaku Palestinian Ministry of Education and Higher Education mengatakan, praktik baik yang dilakukan oleh MI No. 1 Hamzanwadi dalam rangka menguatkan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak, merupakan salah satu penemuan perdaban yang patut diapresiasi. Sebab dengan keilmuan yang mendasar tersebut, menjadi pondasi yang baik untuk anak-anak.”Kami melihat kesiapan yang luar biasa dalam menjalankan pembelajaran ini, semangat dan ambisi yang kuat sehingga terciptalah penemuan peradaban yang baik ini, yang sangat berguna bagi dunia pendidikan di masa mendatang,” katanya. (25/04/2026)Dalam kesempatan itu, Ia juga menjelaskan walaupun Negaranya berada dalam konflik berkepanjangan. Namun hal itu tidak menyurutkan motivasi belajar anak-anak di Palestina.”Semangat inilah yang perlu kami contoh juga, karena Indonesia juga setahu kami merupakan salah satu negara yang telah diliputi oleh bencana berkali-kali namun tetap saja bangkit. Itulah kesamaan kami, diserang terus-menerus namun tetap berdiri teguh dalam berjuang, terlebih lagi dalam mendirikan kembali puing-puing pondasi pendidikan bagi anak-anak kami di sana” sambungnya.Dia melanjutkan, saat ini banyak hati nurani masyarakat dunia yang sudah tergerak karena melihat kondisi di Palestina, terlebih lagi dalam hal pendidikan. Saat ini pihaknya juga sedang membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur akibat konflik tersebut.”Kami tidak punya apa-apa, satu-satunya senjata kami adalah pendidikan. Dan kurikulum kami di sana menggunakan kurikulum yang berbasis pada kompetensi. Namun karena padatnya konten, sehingga kami tidak bisa menampung hal itu,” lanjutnya.Ia juga mengungkapkan, kondisi yang memperihatinkan juga bisa dilihat dari segi kemampuan anak-anak di Palestina. Karena konflik yang berkepanjangan, itulah yang menyebabkan terkadang beberapa anak yang seharusnya sudah ditingkat kelas tujuh, namun kemampuannya masih seperti anak kelas tiga.”Maka dari itu, pembelajaran itu menurut kami tidak boleh berhenti. Dan perlu diketahui bahwa, tidak ada kata cukup untuk belajar, teruslah belajar dan belajar sehingga tercapai peradaban baru di masa mendatang,” ulasnya.Disisi lain Belinda Costin, Sekretaris Pertama Kedutaan Australia berharap dengan adanya skema pembelajaran seperti ini akan mampu memberikan keringanan belajar pada siswa-siswi. Karena sebagaimana diketahui, bahwa salah satu kesulitan murid terkadang karena apa yang ada di dalam buku agak sulit ketika dipraktikkan.Namun dengan adanya kemitraan dari INOVASI ini, yang terus-menerus mendampingi kampus sebagai fasilitator dan juga madrasah sebagai sasaran. Tentu menurutnya hal ini akan menumbuhkan perubahan-perubahan baik ke depannya.”Semoga program seperti ini akan memberi harapan baru ke depannya. Literasi dan numerasi di madrasah sudah sangat baik, praktiknya juga bagus dan sangat relevan jika dijadikan percontohan bagi dunia pendidikan,” tandasnya.Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. H. Amin Suyitno menjelaskan, saat ini dengan data yang ada hampir seluruh wilayah terbuka maupun pelosok di Indonesia terdapat Madrasah dan Pondok Pesantren (Ponpes), dan itu mayoritas dikelola oleh swasta yang artinya biayanya dari masyarakat untuk masyarakat.”Sebagai contoh, hampir 42 ribu pondok pesantren yang ada di indonesia itu milik swasta, tidak ada yang negeri. Maka perlu adanya kurikulum yang relevan untuk dijadikan sebagai pedoman bagi Madrasah dan Ponpes diseluruh Indonesia,” paparnya.Oleh sebab itulah, saat ini Kemenag RI sedang merealisasikan kurikulum yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Cinta alias KBC. Kurikulum ini sudah terlaksana hampir disemua satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Kemenag RI.Terlebih lagi dengan adanya program kemitraan yang dibangun oleh INOVASI ini, menurutnya itu merupakan salah satu ikhtiar yang baik dengan jalannya kurikulum KBC ini tentu berdampingan dengan program kemitraan ini.”Dengan kemunculan kurikulum berbasis cinta ini, tentu bersandingan dengan hal itu program kemitraan ini juga kami sangat apresiasi karena di dalamnya juga semua komponen KBC selaras dengan program kemitraan ini,” terangnya.Pihaknya juga bersyukur melihat pandangan yang sama antara pemerintah Australia jika penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Terlebih lagi dalam hal pendidikan yang kita semua di dunia ini hampir sama harapan dan keinginannya.”Kita sangat bersyukur, berpadangan sama dengan australia krna penjajahan di atas dunia harus di hapuskan. Apapun yang dilakukan pleh teman-temab palestina, selama itu baik tentu kami akan dukung secara penuh,” tegasnya.Di tempat yang sama, Kepala Sekolah MI No. 1 Hamzanwadi Pancor Asrihul Jannah menerangkan, sekitar pada tahun awal 2023 program kemitraan INOVASI yang bekerja sama dengan balai tumbuh kembang dan juga LTPK telah membantu banyak madrasah, termasuk di MI 01 Hamzanwadi Pancor.”Program Inovasi ini sangat membantu banyak bagi madrasah kami, khususnya menangani anak-anak disabilitas. Pada tahun 2026 ini, madrasah kami masih menerima untuk menangani disbilitas atau berkebutuhan khusus,” terangnya.Terlebih lagi, kata Kepsek, semua anak mempunyai kesempatan untuk bertumbuh dan berkembangan dengan layak. Maka dari itu, pihaknya menyelaraskan apa-apa yang menjadi kebutuhan anak untuk meraih pendidikan yang layak tanpa pandang bulu.”Terlebih kurikulum berbasis cinta ini tentu kami menjadu lebih memahami siswa. Yang semulanya, kadang kami geregetan ketika mulai masuk kelas karena menghadapi kondisi siswa, tapi berkat kurikulum berbasis cinta ini, guru-guru kami sudah bisa memahami kondisi emosialnya saat berhadapan dengan siswa,” tuturnya.Dalam kesempatan itu, Ia menyampaikan bahwa pondasi yang diajarkan oleh pendiri Madrasah sudah melekat dengan karakter dan budaya yang dimiliki oleh siswa maupun guru. Nilai-nilai yang luhur itulah yang menjadi pondasi Madrasah sehingga bisa ditularkan di masyarakat luas.Hal yang sama juga disampaikan oleh Wakil Rektor I IAI Hamzanwadi Pancor, Dr. H. Abd. Hayyi Akrom menyampaikan, pihaknya akan terus berkolaborasi dengan pihak terkait untuk mengembangkan pendidikan. Hal itu dilakukan sebagai langkah konkret kampus sebagai garda terdepan dalam segala hal yang berkaitan dengan pendidikan.”Alhamdulillah begitu adanya intervensi dengan program kemitraan INOVASI, maka dapat meningkatkan pendidikan literasi khususnya pada 40 madrasah sasaran,” pungkasnya.Selain itu, Dia juga telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir atau mengurangi angka pernikahan dini yang masih tinggi, khusus di beberapa daerah di NTB.”Kami juga berupaya melakukan pencegahan pernikahan anak, dengan melakukan kolaborsi bersama dengan madrasah, hal itu juga mampu melakukan upaya pelatihan untuk para siswa agar tidak terjerumus dalam pernikahan dini,” katanya.Lebih lanjut, menurutnya perjuangan NWDI akan terus mengakar untuk menamakan rasa cinta bersama, dan cerdas maju bersama. Baik dalam hal pendidikan, dakwah, maupun sosial. (febriga)